Rumput bahari dikenal pertama kali oleh bangsa Cina kira - kira tahun 2700 SM. Pada saat itu rumput laut banyak digunakan untuk sayuran & obat - obatan. Pada tahun 65 SM, bangsa Romawi memanfaatkannya sebagai bahan baku kosmetik. Tetapi menggunakan perkembangan ketika, pengetahuan tentang rumput lautpun semakin berkembang. Spanyol, Perancis, dan Inggris membuahkan rumput laut menjadi bahan baku pembuatan gelas.
Kapan pemanfaatan rumput laut pada Indonesia tidak diketahui. Hanya dalam waktu bangsa Portugis tiba ke Indonesia kurang lebih tahun 1292, rumput laut telah dimanfaatkan menjadi sayuran. Baru dalam masa sebelum perang dunia ke - 2, tercatat bahwa Indonesia sudah mengekspor rumput laut ke Amerika Serikat, Denmark, dan Perancis.
Indonesia menjadi negara kepulauan dengan jumlah pulau 17.504 buah & panjang garis pantai mencapai 81.000 km merupakan mempunyai potensi yg akbar buat pengembangan budidaya laut. Rumput laut adalah galat satu komoditas budidaya bahari yang bisa diandalkan, gampang dibudidayakan, dan memiliki prospek pasar yg baik dan bisa menaikkan pemberdayaan warga pantai. Rumput bahari merupakan galat satu komoditas perdagangan internasional. Komoditas ini sudah pada ekspor lebih berdasarkan 30 negara.
Perairan Indonesia menjadi daerah tropika memiliki sumberdaya rumput bahari yang cukup akbar baik menjadi sumberdaya plasma nutfah menggunakan kurang lebih 555 jenis rumput bahari di perairan Indonesia (ekspedisi Laut Siboga 1899-1900 oleh Van Bosse). Jenis yang poly masih ada pada perairan Indonesia merupakan Gracilaria, Gelidium, Eucheuma, Hypnea, Sargasum & Turbinaria. Dari beberapa jenis rumput laut sudah bisa dikembangkan ratusan jenis produk yg bisa dimanfaatkan dalam aneka macam bidang, antara lain dalam industri pangan & non pangan. Sebagian akbar rumput laut berdasarkan Indonesia masih pada ekspor pada bentuk kemarau dan baru sebagian kecil diolah dalam bentuk bahan 1/2 jadi dan bahan jadi. Negara lain selain Indonesia sebagai pengahasil rumput laut merupakan Jepang, Amerika Serikat, Kanada, daratan Eropa, Filipina, Thailand, Malaysia, India ,Chili dan Madagaskar. Perkembangan ekspor selama 5 tahun terakhir, pertanda peningkatan perolehan devisa Indonesia dari rumput bahari sebesar 43,04% per tahun yaitu berdasarkan US$ lima,935 juta tahun 1998 semakin tinggi menjadi US$ 15,785 juta dalam tahun 2002. Perolehan devisa berdasarkan negara Spanyol, China & USA dalam dua tahun terakhir ini memperlihatperkembangan yang menggembirakan yaitu semakin tinggi masing-masing sebesar 122,2% pertahunnya buat Spanyol, 533,25% buat China dan 184,68% untuk USA. Perolehan devisa ekspor rumput laut Indonesia selama tahun 2002 mencapai US$ 15,785 juta terutama dari berdasarkan negara China senilai US$ dua,553 juta (16,17%), Spanyol senilai US$ 2,351 juta (14,90%) & Denmark senilai US$ 2,132 juta (13,51%).
Jenis alga merah yang mempunyai nilai hemat adalah Eucheuma sp, Gracilaria sp, Gelidium sp, Sargassum sp & Turbinaria sp. Dari jenis tadi yg sudah dibudidayakan adalah jenis Eucheuma sp dan Gracilaria sp. Eucheuma sp dibudidayakan di perairan pantai/laut, sedangkan Gracilaria sp bisa dibudidayakan pada tambak.
Dalam budidaya rumput laut Euchema sp. Yang sudah dikembangkan pada Indonesia masih ada beberapa teknik yaitu Metoda Lepas Dasar, Metoda Rakit Apung, Metoda Jalur (kombinasi), Metoda Rawai (Longline) dan metode keranjang. Sedangkan budidaya rumput laut Gracilaria sp. Masih ada 2 metode yaitu Metode Tebar dan Metode Lapas Dasar.
1. JENIS RUMPUT LAUT POTENSIAL
Rumput bahari dibagi dalam empat kelas yaitu : Chlorophyceae (ganggang hijau), Rhodophyceae (ganggang merah), Cyanophyceae (ganggang biru), Phaeophyceae (ganggang coklat).
Jenis rumput bahari potensial yang dimaksud disini adalah jenis rumput bahari yang sudah dikenal dipakai diberbagai industri sebagai sumber karagin, supaya-agar & alginat. Karaginofit adalah rumput laut yg mengandung bahan primer polisakarida karagin, agarofit merupakan rumput laut yang mengandung bahan primer polisakarida supaya-supaya keduanya adalah rumput bahari merah (Rhodophyceae). Alginofit adalah rumput laut cokelat (Phaeophyceae) yg mengandung bahan utama polisakarida alginat.
1.1. Karagenofit
Rumput bahari yg mengandung karaginan merupakan berdasarkan marga Eucheuma. Karaginan ada tiga macam, yaitu iota karaginan dikenal dengan tipe spinosum, kappa karaginan dikenal dengan tipe cottonii & lambda karaginan. Jenis rumput laut yang potensial adalah E. Cottonii dan E. Spinosum merupakan rumput laut yang secara luas diperdagangkan, baik buat keperluan bahan standar industri pada dalam negeri maupun buat ekspor. Sedangkan E. Edule dan Hypnea hanya sedikit sekali diperdagangkan dan nir dikembangkan pada bisnis budidaya. Hypnea umumnya dimanfaatkan oleh industri supaya. Sebaliknya E.Cottonii dan E. Spinosum dibudidayakan oleh masyarakat pantai. Dari ke 2 jenis tersebut E. Cottonii yg paling banyak dibudidayakan lantaran permintaan pasarnya sangat akbar. Jenis lainnya Chondrus spp., Gigartina spp., dan Iridaea nir ada pada Indonesia, mereka merupakan rumput bahari sub-tropis.
Rumput laut Eucheuma pada Indonesia umumnya tumbuh di perairan yg memiliki rataan terumbu karang melekat dalam substrat karang meninggal atau kulit kerang ataupun batu gamping pada wilayah intertidal & subtidal. Tumbuh beredar hampir diseluruh perairan Indonesia. Wilayah potensial buat pengembangan budidaya rumput laut Eucheuma terletak perairan pantai Nangro Aceh Darusalam (Sabang); Sumatera Barat (Pesisir Selatan, Mentawai); Riau (Kepulauan Riau, Batam); Sumatra Selatan; Bangka Belitung, Banten (dekat Ujung Kulon, Teluk Banten/P.Panjang); DKI Jakarta (Kepulauan Seribu); Jawa Timur (Karimun Jawa, Situbondo dan Banyuwangi Selatan, Madura); Bali (Nusa Dua/Kutuh Gunung Payung, Nusa Penida, Nusa Lembongan); Nusa Tenggara Barat (Lombok Barat dan Lombok Selatan, pantai Utara Sumbawa Besar, Bima, & Sumba); Nusa Tenggara Timur ( Maumere, Larantuka, Kupang, P. Roti selatan ); Sulawesi Utara; Gorontalo; Sulawesi Tengah; Sulawesi Tanggara; Sulawesi Selatan; Kalimantan Barat; Kalimantan Selatan (pulau Laut); Kalimantan Timur; Maluku (P. Seram, P. Osi, Halmahera, Aru/Kai).
1.Dua. Agarofit
Agarofite merupakan jenis rumput laut penghasil agar misalnya Gracilaria spp. Dan Gelidium spp/Gelidiella yang diperdagangkan buat keperluan industri di pada negeri maupun buat diekspor. Agar-supaya merupakan polisakarida yg semakin meningkat nilainya bila bisa ditingkatkan menjad agarose. Agar-supaya bisa membangun jeli misalnya karaginan namun kandungan sulfatnya masih ada, jika sudah bebas berdasarkan kandungan sulfat sebagai agarose.
Kualitas supaya-supaya yang ekstraksi berdasarkan Gelidium/Gelidiella lebih tinggi dibanding berdasarkan Gracilaria. Dalam industri supaya-supaya bahan dari Gelidium mutunya bisa ditingkatkan menjadi agarose, sedangkan dari Gracilaria masih belum bisa. Agar-supaya berdasarkan Gracilaria telah bisa ditingkatkan menjadi agarose, tetapi masih dalam skala laboratorium.
Jenis yang dikembangkan secara luas merupakan Gracilaria spp. Di Indonesia umumnya yang dibudidayakan pada tambak merupakan jenis Gracilaria verrucosa. Jenis ini memiliki Thallus berwarna merah ungu dan kadang-kadang berwarna kelabu kehijauan dengan percabangan alternate atau dichotomy, perulangan lateral berbentuk silindris, meruncing pada ujung dan mencapai tinggi 1-3 cm serta berdiameter antara 0,5 - 2,0 mm. Gracilaria yg banyak dibudidayakan adalah G. Verucosa & G. Gigas , jenis ini berkembang di perairan Sulawesi Selatan ( Jeneponto, Takalar, Sinjai, Bulukumba, Wajo, Paloppo, Bone, Maros ); Pantai utara P. Jawa (Serang, Tangerang, Bekasi, Karawang, Brebes, Pemalang, Tuban dan Lamongan); Lombok Barat. Gracilaria selain dipanen dari output budidaya pula dipanen dari alam. Panen dari alam kualitasnya kurang baik karena tercampur dengan jenis lain.
1.Tiga. Alginofit
Alginofite adalah jenis rumput bahari penghasil alginat seperti Sargasssum spp., Turbinaria spp., Laminaria spp., Ascophyllum spp., & Macrocystis spp. Sargassum & Turbinaria poly dijumpai pada perairan bahari Indonesia, sedangkan Laminaria, Ascophyllum dan Macrocystis sedikit dijumpai di Indonesia, karena jenis tersebut hidup pada daerah sub-tropis.
Sargassum dan Turbinaria belum diusahakan budidaya karena sangat sulit disamping rendemen alginate menurut ke dua jenis tersebut sangat kecil dibandingkan Laminaria yg sudah dibudidayakan di Jepang dan China, & permintaan sargassum masih sangat terbatas. Penyebaran Sargassum pada alam sangat luas terutama pada daerah rataan terumbu karang pada semua wilayah perairan pantai.
2. BUDIDAYA EUCHEUMA
Faktor ? Faktor yang perlu diperhatikan pada budidaya rumput bahari : pemilihan lokasi yang memenuhi persyaratan budidaya, penyediaan bibit yang baik & cara pembibitan, metoda budidaya dan perawatan, panen, dan penyimpanan.
Dua.1. Pemilihan Lokasi Budidaya
Faktor primer menunjang keberhasilan budidaya rumput bahari merupakan pemilihan lokasi yang sempurna. Pertumbuhan rumput bahari sangat dipengaruhi sang kondisi ekologi setempat. Penentuan suatu lokasi harus disesuaikan menggunakan metode budidaya yg akan digunakan. Penentuan lokasi yang galat berakibat fatal bagi bisnis budidaya rumput laut, karena laut yang bergerak maju tidak dapat diprediksi. Dalam pemilihan lokasi buat budidaya rumput bahari, perlu dipertimbangkan faktor resiko, kemudahan (aksesibilitas) dan faktor ekologis. Faktor tersebut saling berkaitan & saling mendukung. Untuk memperoleh lokasi tang baik untuk budidaya, pemilihan perlu dilakukan di beberapa lokasi.
Dua.1.1. Faktor Resiko
a. Masalah Keterlindungan; Untuk menghindari kerusakan secara fisik wahana budidaya maupun rumput laut menurut impak angin dan gelombang yg besar , maka dibutuhkan lokasi yg terlindung. Lokasi yang terlindung umumnya didapatkan di perairan teluk atau perairan terbuka tetapi terlindung sang adanya penghalang atau pulau di depannya.
B. Masalah Keamanan; Masalah pencurian & perbuatan sabotase mungkin dapat dialami, sehingga upaya pendekatan pada beberapa pemilik usaha lain atau menjalin hubungan baik menggunakan masyarakat kurang lebih, perlu dilakukan.
C. Masalah Konflik Kepentingan.; Beberapa kegiatan perikanan (kegiatan penangkapan ikan, pengumpul ikan hias) dan aktivitas lain (pariwisata, perhubungan bahari, industri, taman nasional laut) dapat berpengaruh terhadap aktivitas bisnis rumput laut & bisa mengganggu beberapa wahana rakit.
Dua.1.2. Faktor Kemudahan
Pemilik usaha budidaya rumput bahari cenderung memilih lokasi yang berdekatan dengan tempat tinggal, sehingga kegiatan monitoring dan penjagaan keamanan bisa dilakukan dengan mudah. Kemudian lokasi dibutuhkan berdekatan menggunakan sarana jalan, karena akan mempermudah dalam pengangkutan bahan, sarana budidaya, bibit, dan hasil panen. Hal tadi akan mengurangi porto pengangkutan.
Dua.1.Tiga. Faktor Ekologis
Parameter ekologis yg perlu diperhatikan antara lain : arus, syarat dasar perairan, kedalaman, salinitas, kecerahan, pencemaran, dan ketersediaan bibit & energi kerja yang terampil.
A. Arus; Rumput bahari adalah organisma yg memperoleh makanan melalui aliran air yang melewatinya. Gerakan air yg cukup akan menghindari terkumpulnya kotoran dalam thallus, membantu pengudaraan, dan mencegah adanya fluktuasi yang akbar terhadap salinitas juga suhu air. Suhu yang baik buat pertumbuhan rumput laut berkisar 20 ? 28o. Arus dapat disebabkan oleh arus pasang surut. Besarnya kecepatan arus yang baik antara : 20 ? 40 cm/dtk. Indikator suatu lokasi yang mempunyai arus yang baik umumnya ditumbuhi karang lunak dan padang lamun yang bersih berdasarkan kotoran dan miring ke satu arah.
B. Kondisi Dasar Perairan; Perairan yang memiliki dasar pecahan-pecahan karang dan pasir kasar, dicermati baik buat budidaya rumput bahari Eucheuma cottonii. Kondisi dasar perairan yg demikian merupakan petunjuk adanya gerakan air yang baik, sedangkan apabila dasar perairan yg terdiri menurut karang yg keras, menampakan dasar itu terkena gelombang yg besar & apabila dasar perairan terdiri menurut lumpur, menampakan gerakan air yg kurang.
C. Kedalaman Air; Kedalaman perairan yg baik buat budidaya rumput bahari Eucheuma cottonii adalah 30 ? 60 cm pada ketika surut terendah buat (lokasi yang ber arus kencang) metoda tanggal dasar, dan dua - 15 m buat metoda rakit apung, metode rawai (long-line) & sistem jalur. Kondisi ini buat menghindari rumput bahari mengalami kekeringan & mengoptimalkan perolehan sinar mentari .
D. Salinitas; Eucheuma cotonii (sinonim: Kappaphycus alvarezii) merupakan alga bahari yg bersifat stenohaline, nisbi tidak tahan terhadap disparitas salinitas yg tinggi. Salinitas yang baik berkisar antara 28 - 35 ppt dengan nilai optimum adalah 33 ppt. Untuk memperoleh perairan dengan salinitas demikian perlu dihindari lokasi yang berdekatan menggunakan muara sungai.
E. Kecerahan; Rumput laut memerlukan cahaya mentari sebagai sumber tenaga guna pembentukan bahan organik yang diperlukan bagi pertumbuhan & perkembangannya yang normal. Kecerahan perairan yang ideal lebih menurut 1 (satu) m. Air yang keruh umumnya mengandung lumpur yang dapat menghalangi tembusnya cahaya mentari pada dalam air, sebagai akibatnya kotoran dapat menutupi bagian atas thallus, yang akan mengganggu pertumbuhan & perkembangannya
f. Pencemaran; Lokasi yg sudah sang limbah tempat tinggal tangga, industri, juga limbah kapal laut harus dihindari.
G. Ketersediaan Bibit; Lokasi yg masih ada stock alami rumput bahari yang akan dibudidaya, adalah petunjuk lokasi tadi cocok buat bisnis rumput bahari. Apabila tidak masih ada asal bibit bisa memperolehnya dari lokasi lain. Pada lokasi dimana Eucheuma cottonii mampu tumbuh, umumnya terdapat juga jenis lain misalnya Gracilaria & Sargassum.
H. Tenaga Kerja; Dalam menentukan tenaga kerja yang akan ditempatkan pada lapangan sebaiknya dipilih yang bertempat tinggal berdekatan dengan lokasi budidaya, sebagai akibatnya dapat menaikkan kinerja dan sekaligus berhemat biaya transportasi.
Sumber:
http//supmladong.Kkp.Go.Id/
SUPM Ladong, 2012. Modul ?Budidaya Rumput Laut?. Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Ladong, Pusat Pendidikan Kelautan & Perikanan, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Aceh.
Checking your browser before accessingPlease enable Cookies and reload the page. This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly. Please allow up to 5 seconds… |
